Pelle Carlberg Pelle Carlberg has been playing in bands since the Middle Ages. Most recently in Edson, a six-piece band with three splendid albums behind them. For the moment he is concentrating on his solo project, but Edson might do a show when you least expect it.
Sore Sore hari adalah waktu yang paling indah untuk mendengarkan musik, di mana lembayung merah di angkasa mampu menggugah setiap sudut gelap batin manusia yang terkalahkan oleh waktu dan memancarkan sinar terang alami di kala hati sedang berharap. Bisa dikatakan bahwa sore hari adalah saat di mana kita melepaskan segala beban yang ada di benak, dan mulai berinteraksi dengan pada yang ada dalam ketenangan jiwa.
Stereomantic Kini hadir artis baru meramaikan scene musik Indonesia: stereomantic! Album perdananya, 'stereomantic' dirilis oleh Aksara Records bulan Desember ini dengan single pertama 'Takut'.
Nama stereomantic berasal dari kata stereo dan romantic, yaitu musik yang stereo mengiringi lagu-lagu yang romantic. Duo Aroel (ex-gitaris Planetbumi – now jingle maker) dan Maria (ex-vokalis Klarinet) ini menampilkan warna musik pop yang dikemas secara elektronik. Beberapa orang mengkategorikan musik stereomantic sebagai 'indie pop electronic', ada juga 'electro pop', ada lagi 'disco pop', tapi benang merahnya satu: POP.
Terbentuknya The Adams berawal dari sebuah project band bernama Lonely pada akhir tahun 2000. Pertama kali, mereka muncul dengan single “Just” dalam album kompilasi “Kampus 24 Jam Hits!!!” rilisan Kampus 24 Jam Hits Records yang menampilkan band-band jebolah Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Atas rekomendasi Jimi (vokalis band new wave The Upstairs), maka kemudian terbentuklah The Adams yang beranggotakan Ario (gitar/vox), Tio “Be Quiet” (bass) dan Beni “The Upstairs” (drum), dibantu Martino “Jukebox” sebagai gitaris additional.
The Brandals Awal berdiri tahun 1999, dengan formasi awalnya adalah Rully, Bayu, Tonny, Doddy, dan Edo sebagai Vokalis. Sempat vakum sepanjang tahun 2000 karena kesibukan masing-masing personil. Pertengahan 2001 kembali aktif dan berhasil merekam 2 single di tahun 2002, namun setelah itu Edo mengundurkan diri dan digantikan oleh Eka.
The Whitest Boy Alive . Aksara Records melisensi dan merilis album keluaran Bubbles Records, yaitu ‘Dreams’ dengan single pertamanya ‘Burning’ dari The Whitest Boy Alive, sebuah music project yang digawangi oleh Erlend Øye (gitar dan vokal) –salah satu pendiri dan otak dibalik kesuksesan Kings of Convenience, Marcin Oz (bass), Sebastian Maschat (drums) dan Daniel Nentwig (rhodes dan crumar).
Tika Kartika Jahja, sejak kecil menyukai menyanyi lebih dari apapun. Ia tampil untuk teman-teman dan keluarganya dan seiring dengan waktu mulailah proses kreatifnya dalam menciptakan lagu. Tika adalah cucu dan kemenakan dari penyanyi soprano terdepan di negeri ini, Pranawengrum Katamsi dan Aning Katamsi.
Vampire Weekend Pada musim gugur 2005, Ezra Koenig bertanya-tanya tentang asal usul tema gaya ‘preppiness’, atau yang sering ditemukan pada gaya berpakaian eksekutif muda Inggris. Seperti, apakah celana khaki itu? Dari mana asalnya? Pada musim panas sebelumnya ia keliling India, juga mengadakan tour sepanjang Amerika tapi sebagai anggota band The Dirty Projectors. Pada saat yang bersamaan, Rostam Batmanglij berhasil mendapatkan kunci pintu ruangan piano harpsichord di Columbia University. Ia mengambil kelas film scoring di daerah pusat kota dan menyewa apartemen di Morningside Heights, New York.
Pada universitas Columbia, Ezra memilih jurusan Sastra Ingris dan Rostam mengambil jurusan Musik. Saat kuliahnya hampir kelar, mereka membentuk Vampire Weekend dengan drummer Christopher Tomson dan bassis Chris Baio.
Dengan pemikiran unik dan istimewa, mereka memulai karirnya dengan memasuki dapr rekaman dan mengadakan show-show disekitar New York. Mengacu dari latar belakang masing-masing personal yang beragam, mulailah mereka bereksperimen dan menggali lebih dalam hal-hal berbeda yang mereka sukai; bunyi-bunyian guitar Africa, norma klasik Barat, memori musim panas di Cape Cod yang mengabur, musim dingin di upper Manhattan, reggaeton dan apapun yang kiranya menjadi bagian dari Vampire Weekend.
Album perdana mereka yang akan datang memakan waktu kurang lebih 18 bulan, dimulai dari ruangan berukuran terlalu kecil di kampus Columbia University sampai berakhir di gudang yang dijadikan studio bernama Treefort di DUMBO, Brooklyn. Selama berjalan, band ini main dari mulai teater kampus Alma Mater, sampai show-show yang terjual habis di New York ditempat-tempat seperti The Bowery Ballroom dan the Music Hall of Williamsburg, juga opening untuk band Animal Collective di Webster Hall.
Pada musim semi 2007, Chris Baio mulai mengatur bandnya untuk mengadakan tur keliling Amerika bertepatang dengan kelulusannya dengan gelar Russian Regional Studies. Sementara Ezra Koenig tengah mempersiapkan ujian akhir semester, Chris Tomson mengakhiri 9 bulan kerjanya di ruangan kecil tanpa jendela di ruang dokumentasi sebuah label major di midtown Manhattan. Vampire Weekend pergi tur dengan mobil van Honda Odyssey 2004nya. Persis setelah menyelesaikan tur, XL Recording menandatangani kontrak album perdana mereka. Semenjak menyelesaikan album di bulan Oktober, Vampire Weekend juga telah menyelesaikan tur Eropa, opening untuk 4 show The Shins, juga sebagai headliners pada show seputar kontinen Amerika. Satu hari setelah perayaan Thanksgiving, mereka kana berangkat lagi untuk kelililng Amerika serikat.
Aksara Records akan merelease Vampire Weekend’s self-titled debut pada 29 February, 2008.
Track Listing: 1. Mansard Roof 2. Oxford Comma 3. A-Punk 4. Cape Cod Kwassa Kwassa 5. M79 6. Campus 7. Bryn 8. One (Blake's Got A New Face) 9. I Stand Corrected 10. Walcott 11. Kids Don't Stand A Chance, The
Dari kota pahlawan yang cenderung didominasi musik cadas, setahun belakangan muncul sebuah band beraliran folk yang tiba-tiba mencuri perhatian publik Surabaya. Band tersebut bernama VOX. Berdiri di awal 2006 dengan formasi Vega (gitar-vokal), Joseph (bas-vokal), Donny (kibor-vokal) dan Mayo (drums-vokal), band ini telah berhasil menjaring penggemar dari berbagai usia dan kalangan. Media setempat pun memberi dukungan penuh kepada VOX. Lagu-lagu dari demo mereka sering diputar radio-radio. Beberapa di antaranya bahkan sempat menduduki chart karena banyaknya permintaan pendengar. Bagaimana dengan panggung? “Alhamdulillah sampai saat ini permintaan panggung banyak sekali. Acaranya pun beragam. Dari mulai acara dengan sponsor besar, pensi SMU, hingga pesta ulang tahun.” ujar Vega. Hal ini dikarenakan penampilan mereka yang senantiasa memukau. Berkualitas dari segi musikal, namun juga menghibur.
White Shoes & The Couples Company adalah sebuah band kecil yang sedikit dipengaruhi oleh semangat akustik para musisi classic jazz di tahun 30-an. Dengan classic strings arrangement yang dibubuhi sedikit retro disco, easy listening accoustic ballads & sedikit sentuhan nada dari keyboard mainan anak-anak keluaran akhir 70-an.