spacer.png, 0 kB
Artists
The Adams
White Shoes & the Couples Company
Sore
Tika
Goodnight Electric
The Brandals
Ape on the Roof
Stereomantic
VOX
 
 
 
  View Artists View CDs View Songs
The Boy Who Couldn't Stop Dreaming - Club 8  
The Boy Who Couldn't Stop Dreaming
Akhirnya! Club 8 kembali dengan album ke-enamnya yang sudah lama dinanti »The Boy Who Couldn't Stop Dreaming« keluar sebagaimana yang diharapkan – inilah musik indie-pop sedalamnya, keseimbangan yang sempurna antara pancaran sinar matahari dan melankolia. Dua belas lagu yang membuat kita sing-a-long tentang kematian sementara bermimpi tentang musim panas yang indah. Gebrakan luar biasa, paling tidak… A glorious return to say the least.



Setelah merilis 3 album hanya dalam 2 tahun, hanya sedikit orang yang menyangka harus menunggu selama 4 tahun untuk album terbaru Club 8. Bahkan beberapa sudah mengambil kesimpulan kalau Club 8 itu bubar.
Pada May 2007 band ini kembali dengan tropicalia-influenced »Whatever you want« yang mana secepat kilat  menjadi blog hit – 10 lagu teratas pada l blogged songs yang disimpulkan di music blog aggregator Elbo.ws.

Masa kekosongan Johan Angergård sang penulis lagu sekaligus vokalis, tak hanya merilis tiga album dengan The Legends, is juga merilis satu dari Acid House Kings. Club 8 telah berkembang menjadi salah satu band yang paling berpengaruh saat ini. Bukan maksud album sebelumnya kurang dalam emosi atau kedalaman penjiwaan, itu jauh dari kebenaran, akan tetapi »The boy who couldn't stop dreaming« adalah album yang lain daripada sebelumnya dan benar-benar spesial. Waktu yang pesat dari hidup, dan peristiwa hampir menuju ajal hadir didalam kemasan 12 lagu indie-pop sempurna seakan memakai baju terusan berbunga-bunga. Album ini adalah keseimbangan dari cahaya matahari dan kemurungan, tak hanya unik tapi juga menggugah hati.

BIOGRAPHY
Club 8 dibentuk pada tahun 1995 oleh Karonlina Komstedt (dari band Poprace) dan Johan Angergård (Acid House Kings, Poprace). Dibuat secara sederhana direkam dalam kamar dari tiga lagu pertama mereka dan mengirimnya ke sepuluh label favorit mereka. Responnya hampir secepat dan sebaik lagunya, dengan setengah dari jumlah label rekaman tersebut berkeinginan untuk merilisnya. Club 8 akhirnya memilih label Spanyol, Siesta, yang merilis »Me too« dan debut album »Nouvelle« pada tahun berikutnya. Dilanjutkan oleh album yang semanis sebelumnya, »The friend I once had« (1998). Pembauran bossa nova, guitar ceria, shiny pop melody dan sedikit percikan dance music membuat  album ini indie-success. Merekapun berhasil unjuk gigi di salah satu event musik industri yang terbesar, CMJ, di New York th 1999.

Haus akan perubahan yang konstan dan pengembangan sound, Club 8 terpusat dinada pop yang sebenar-benarnya pada »The friend I once had« serta, album self-titled »Club 8« menyusul (2001-Parasol/Labrador/Flavour of Sound). Keduanya bersuasana gelap dan lebih pelan. Pada akhir 2001 Club 8, bersama band cs-nya Acid House Kings, membangun recording studio– Summersound Studios. Maka dengan kebebasan rekaman itu, Club 8 menyelami fase yang paling kreatif dan produktif merekam beraneka ragam lagu, yang semi elektronik dan sedikit experimental, tapi dengan emosi yang dahsyat, lahirlah »Spring came, rain fell« th 2002, dan album berbasis gitar dilanjutkan dengan »Strangely beautiful« th 2003, dimana terdapat lagu »Saturday night engine« yang diterjemahkan seperti ini "layaknya samberan kilat, diinspirasikan oleh gaya Nothern-soul penuh kegairahan , yang terdengar agak keluar jalur dari discography identitas band ini", dan dianggap 'sebagai pelopor band dari Johan The Legends' oleh All Music.

Selama masa kekosongan tahun 2003 sampai 2006 Club 8 melakukan sedikit tour asia dan Eropa.
Sampai akhirnya sudah tak tertampung keinginannya untuk berkreasi. Terdoronglah untuk memulai recording lagi dimana pada bulan September merekam »The boy who couldn't stop dreaming«.

For more info: www.aksararecords.com , www.labrador.se
CD Track List:  
Track Title Length
spacer.png, 0 kB